Latest Posts

January 20, 2011

Para Penghuni Planet

Ada yang mengatakan bahwa ada mahluk lain seperti manusia di planet-planet lain seperti dilansir salah satu media berikut ini:

Didalam agam islam tidak ada larangan menghalangi manusia untuk naik ke angkasa, atau mengetahui apa-apa yang terdapat pada planet-planet lain.  Bahkan, di alam Al-Quran terdapat isyarat-isyarat yang mendorong manusia untuk naik ke angkasa.  Sebagai contoh firman ALLAH SWT yang mengatakan, artinya,
"Katakanlah,Lihatlah apa yang ada dilangit dan di bumi." 

UFO Lingkaran di Langit Elista, Rusia
Mantan pemimpin Kalmykia mengaku pernah bertemu dan berkomunikasi dengan UFO.
Kamis, 30 Desember 2010, 11:38 WIB

Penampakan benda terbang aneh atau UFO terlihat di langit Kota Elista, ibu kota Republik Kalmykia, di selatan Rusia. Pada Desember 2010, ratusan warga Elista bisa melihat penampakan UFO setiap sepuluh hari di bulan itu. Demikian dikabarkan harian Nezavisimaya Gazeta. 
Penampakan yang paling menghebohkan terjadi pada 22 Desember 2010, para saksi mata mengaku melihat dua lingkaran konsentris di langit dari pukul 15.00 hingga 19.00 waktu setempat.  Lingkaran dalam berputar searah jarum jam, sementara lainnya berputar ke arah berlawanan. Sementara, saksi mata lainnya melihat benda segi tiga yang menyorotkan cahaya datang dari arah tersebut. (http://teknologi.vivanews.com/news/read/196594-video--ufo-lingkaran-di-langit-elista--rusia).

Di dalam agama juga tidak terdapat nas-nas yang menafikan keberadaaan mahluk-mahluk hidup di planet-planet lain selain bumi.  Bahkan, mungkin sebagian ayat Al-Quran mengisyaratkan adanya sejenis mahluk ini di langit.  Kata "samwat" adalah bentuk jamak dari kata "sama", yang berarti segala sesuatu yang berada di atas kamu.  Sebagai contoh adalah firman ALLAH di dalam Surah Asy-Syura, ayat 29, artinya.


"Dan diantara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasan)-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan mahluk-mahluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya.  Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki Nya."

Para mufasir berkata bahwa "dabbah" ialah binatang yang melata dan bergerak.  Ayat di atas telah menyebutkan bahwa ALLAH SWT telah menyebarkan mahluk-mahluk hidup ini di langit dan di bumi, "Dan mahluk-mahluk melata yang ada pada keduanya." Mufasir Syihabuddin Al-Alusi, yang wafat pada tahun 1270 Hijriah (berarit sudah lebih dari seratus tahun), berbicara mengenai ayat di atas dalam kitab tafsirnya yang terkenal, "Ruh al-Ma'ani", sebagai berikut,

Di dalam hadis-hadis sahih terbukti ada petunjuk-petunjuk yang menunjukkan adanya mahluk-mahluk melata di langit.  Begitu juga ada petunjuk yang menunjukkan adanya para malaikat yang mulia.  Bahkan tidak mustahil bahwa di setiap langit terdapat binatang-binatang dan mahluk-mahluk yang beraneka ragam yang tidak kita ketahui, dan tidak disebutkan di dalam hadis-hadis. ALLAH SWT telah berfirman, artinya:

"Dan Dia menciptakan apa-apa yang tidak kalian ketahui" (QS. an-Nahl [16]:9)

Bagi para peneropong sekarang (maksudnya para peneropong pada masanya), dengan bantuan alat teleskop dapat melihat adanya mahluk-mahluk di bulan.  Namun, mereka tidak dapat membuktikan dugaan tersebut, karena kekurangan alat yang mereka butuhkan untuk membuktikan anggapan mereka itu.  Bahkan ada kemungkinan bahwa mahluk-mahluk hidup tersebut juga ada di planet lain selain bulan.  Menafikan pendapat yang mengatakan demikian bukanlah bagian penting dari agama, sehingga pendapat tersebut mendatangkan bahaya.


Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan langit adalah bagian atas semua kawasan.  Pada udara setiap kawasan, setiap negara, dan bahkan pada setiap bagian dari bumi terdapat berbagai macam binatang yang tidak ada satu pun orang yang dapat menghitung jumlahnya.  Sebagian darinya dapat diindera tanpa perantaraan alat, sementara sebagiannya lagi dengan perantaraan alat.

Bagaimanapun kenyatannya masalah ini, namun perlu kita ingat, kita jangan sampai memaksakan agama kita kepada sesuatu yang berada diluar kekuasannya.  Dan juga jangan sampai kita memasukkan nas-nas agama dengan paksa ke dalam pembahasan-pembahasan ilmiah yang bukan merupakan tujuan asalnya.  Cukuplan untuk menunjukkan kemuliaan agama bahwa agama menyeru kepada ilmu, pengkajian, dan pembahasan mengenai apa-apa yang ada dilangit dan yang ada di bumi, dan bahwa agama tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. (Sumber: Ensklopedi Apa & Mengapa dalam ISLAM)

Wallahualam.

more »

December 8, 2010

1 Muharram 1432 Hijriah

Tahun baru islam merupakan satu momen tersendiri bagi umat islam. Dalam menyambut tahun baru kali ini yang bertepatan dengan tanggal 07 Desember 2010 di Masjid Al-Barokah diadakan pula kegiatan menyambut tahun baru islam tersebut, yakni; Festival Pawai Obor diadakan pada Senin malam Selasa dan Siramah Rohani pada Kamis malam Jum'at.

Sikap Muslim menghadapi datangnya tahun baru Islam.

Muhasabah

Muhasabah adalah introspeksi diri. Kita menghisab diri kita sebelum nanti kita dihisab, jangan sampai kita menyesal nanti, karena waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shaleh. Apa yang sudah dilakukan sebagai bentuk amal shaleh? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini selayaknya menemani hati dan pikiran seorang muslim yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, lebih-lebih dalam suasana pergantian tahun seperti sekarang ini. Pergantian tahun bukan sekedar pergantian kalender saja, namun peringatan bagi kita apa yang sudah kita lakukan tahun lalu, dan apa yang akan kita perbuat esok. 

Bulan Muharam Adalah Bulan Allah
Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadis. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah). Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya.
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim).

Sunnah Berpuasa
Di bulan Muharram ini terdapat sebuah hari yang dikenal dengan istilah Yaumul 'Asyuro, yaitu pada tanggal sepuluh bulan ini. Asyuro berasal dari kata Asyarah yang berarti sepuluh.
Pada hari Asyuro ini, terdapat sebuah sunah yang diajarkan Rasulullah saw. kepada umatnya untuk melaksanakan satu bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah Ta’ala. Yaitu ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyuro. Adapun hadis-hadis yang menjadi dasar ibadah puasa tersebut, diantaranya :
.Diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, Rasulullah saw, bersabda :
Aku berharap pada Allah dengan puasa Asyura ini dapat menghapus dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
more »

November 18, 2010

Qurban di BCP dan Makna dibalik Qurban

Dari Jundub r.a. :Rasulullah saw melaksanakan shalat (idulAdha) di hari penyembelihan, lalu beliau menyembelih, kemudian beliau bersabda:Barangsiapa menyembelih sebelum shalat maka hendaknyha ia mengulangi penyembelihan sebagai ganti, barangsiapa yang belum menyembelih maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kata Idul Adha artinya kembali kepada semangat berkurban. Berbeda dengan Idul Fitri yang artinya kembali kepada fitrah. Bila Idul Fitri berkaitan dengan ibadah Ramadhan, di mana setiap hamba Allah selama Ramadhan benar-benar disucikan hingga mencapai titik fitrah yang suci, maka dalam Idul Adha tidak demikian. Idul Adha lebih berupa kesadaran sejarah akan kehambaan yang dicapai nabi Ibrahim dan nabi Ismail as. Karenanya di hari tersebut ibadah yang paling utama adalah menyembelih qurban sebagai bantuan terhadap orang-orang miskin.

Qurban dalam istilah fiqih adalah Udhiyyah yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri dari onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Jika penyembelihan itu dilakukan sebelum hari raya qurban atau setelah hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) maka dianggap sebagai menyembelih biasa, tidak bisa disebut dengan qurban. Sesuai dengan sabda rasulullah saw : ”Pekerjaan yang kita mulai lakukan di hari ini (Idul Adha) adalah shalat lalu kita pulang dan menyembelih, barangsiapa melakukannya maka telah sesuai dengan ajaran kami, dan barangsiapa memulai dengan menyembelih maka sesungguhnya itu adalah daging yang ia persembahkan untuk keluarganya dan tidak ada kaitannya dengan ibadah”(H.R. Muslim).



Adapun keutamaan berqurban, adalah sebagai berkut:
  1. Berqurban merupakan syi’ar-syi’ar Allah swt,sebagaimana diterangkan dalam surah Al-Hajj ayat 36.
  2. Berqurban merupakan bagian dari Sunnah Rasulullah saw, sebagaimana telah diuraikan oleh sabda-sabdanya diatas.
  3. Berqurban termasuk ibadah yang paling utama. sesuai dengan firman Allah swt: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)’.” (Al-An’am: 162-163) Dan firman-Nya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ra menafsirkan ayat kedua pada surah al-Kautsar bahwasanya “Allah swt memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah swt, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada -Nya, janji, perintah, serta keutamaan-Nya.” Shalat yang disandangkan dengan qurban menunjukan betapa tinggi dan mulia serta pentingnya berkurban sebagaimana pentingnya shalat wajib yang telah difardukan oleh Allah swt. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Ibadah harta benda yang paling mulia adalah menyembelih qurban, sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat.”
  4. Memberikan kebahagiaan kepada para fakir miskin dengan pemberian daging hewan yang telah disembelih. Sebab tidak semua orang mampu makan dengan daging walau adanya di kota besar, masih banyak kawan kita, saudara kita, tetangga kita yang makan daging sebulan sekali. Sehari-harinya hanya makan alakadarnya. Maka dianjurkan sekali bagi orang yang mampu untuk berqurban dengan niat ikhlas kelak dikemudian hari akan mengantarkan kita menuju surga yaitu binatang yang telah kita kurbankan, yang merupakan wujud amal perbuatan kita
Sungguh besar manfaat dan hikmah dari menyembelih hewan qurban ini. Semoga, apa yang telah dilaksanakan menjadi amal shalih yang diterima oleh Allah swt.
Sekian, Wallahu a’lam

(Dikutip dari: http://www.nahrawi.org/2009/11/makna-dibalik-qurban.html )
more »

August 28, 2010

Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya

Pemutarbalikan Sejarah


Sesungguhnya kejahatan yang paling besar terhadap suatu bangsa dan kemanusiaan adalah pemutarbalikan fakta sejarah. Hal ini pasti akan menimbulkan keresahan global. Contohnya dapat kita lihat pada kasus manipulasi sejarah penjajahan Jepang di Korea dan Cina. Apa yang terjadi di Jepang tampaknya juga terjadi di negeri ini. Demikian pula kiranya yang terjadi pada Piagam Jakarta, dan penerapan syari’at Islam di Indonesia, yang mengemuka justru seolah olah jika syari’at Islam diterapkan itu sama dengan menghianati perjuangan para pahlawan. 

Asda yang mengungkapkan “Pendahulu-pendahulu kita itu berpikir jauh ke depan. Negara kita kan negara hukum. Landasannya adalah Pancasila dan UUD’45. Ini semua dulu sudah dirumuskan oleh tokoh-tokoh Islam.” Atau ada yang menyatakan bahwa dulu para ormas Islam tidak pernah menginginkan Indonesia menjadi negara Islam, atau menginginkan syari’at Islam diterapkan di negeri ini.

Fakta Sebenarnya
Bila pembaca ingin detailnya bagaimana perjuangan pendahulu kita untuk tegaknya Islam di Indonesia, silakan membaca buku Piagam Jakarta 22 Juni 1945 karya H. Endang Saifuddin Anshari (Pustaka, 1983). Pada ruang terbatas ini, kami hanya ingin mengungkap bagian paling penting dari aspek sejarah yang tak boleh dilupakan, apalagi dimanipulasikan. 

Istilah Piagam Jakarta atau Jakarta Charter adalah istilah yang diintroduksikan oleh seorang Muslim nasionalis sekular, Mr. Muhammad Yamin. Ini terlihat dari ungkapan Soekarno dalam sidang BPUPKI tatkala menolak keberatan Ki Bagus Hadikusumo, pemimpin Muhammadiyah, yang meminta agar anak kalimat bagi pemeluk-pemeluknya dicoret dari pembukaan (preambule): “Pendek kata inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi Panitia memegang teguh kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muhammad Yamin “Jakarta Charter”, yang disertai perkataan anggota yang terhormat Sukiman “Gentleman’s Agreement”, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan. Saya mengharap paduka tuan yang mulia, rapat besar suka membenarkan sikap Panitia itu” (Lihat: H.Endang Saifuddin, idem, hlm. 32).

Dari ungkapan Ki Bagus yang juga sejalan dengan saran Kiai Ahmad Sanusi, terlihat bahwa aspirasi golongan Islam yang didukung oleh surat 52 ribu ulama setanah air (ibid, hlm. 28) bukanlah apa yang tercantum dalam Piagam, yakni: Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan….Indonesia (ibid, hlm. 27). 

Akan tetapi, aspirasi golongan Islam yang waktu itu antara lain ditokohi oleh Abikusno Tjokrosoejoso (PSII), Abdul Kahar Muzakkir (Muhammadiyah), Haji Agus Salim (Partai Penyadar), dan Abdul Wahid Hasyim (Nahdatul Ulama), adalah: Negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam[1], menurut dasar kemanusiaan. Ini terlihat dari ucapan Abikusno untuk menengahi debat Soekarno dengan Ki Bagus Hadikusumo (Muhammadiyah), “Kalau tiap-tiap dari kita harus, misalnya …dari golongan Islam menyatakan pendirian, tentu saja kita menyatakan, sebagaimana harapan tuan Hadikusumo. Tetapi kita sudah melakukan kompromi…” (ibid, 32). Penjelasan Abikoesno ini disambut dengan tepuk tangan anggota BPUPKI dan akhirnya Hadikusumo menerima dan sidang akhirnya menerima Piagam Jakarta secara bulat (ibid, 33).

Sayangnya, gentleman’s agreement ini dilupakan oleh tokoh-tokoh kalangan nasionalis tatkala BPUPKI sudah berubah menjadi PPKI. Saat mengumumkan UUD 1945, hasil sidang BPUPKI berhari-hari yang dipenuhi dengan perdebatan dan kompromi yang susah payah (berupa Mukadimah atau Piagam Jakarta dan Batang Tubuh UUD) tiba-tiba diubah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Perubahan itu antara lain:
1. Dalam Preambule (Piagam Jakarta), anak kalimat: berdasarkan kepada ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diubah menjadi “berdasar atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”.

2. Pasal 6 ayat 1,   "Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam”,  kata-kata “dan beragama Islam” dicoret.

3. Sejalan dengan perubahan di atas, maka Pasal 29 ayat 1 menjadi “Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”, sebagai pengganti “Negara berdasarkan atas Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Persetujuan PPKI atas perubahan itulah yang oleh pimpinan Masyumi Prawoto Mangkusasmito dikatakan menimbulkan satu historische vraag, satu pertanyaan sejarah; menimbulkan kekecewaan golongan Islam. Muhammad Natsir saat itu berkata: Menyambut hari Proklamasi 17 Agustus kita bertahmied. Menyambut hari besoknya, 18 Agustus, kita beristighfar. InsyaAllah umat Islam tidak akan lupa[2]

Namun demikian, buru-buru Soekarno—sebagai salah satu pihak yang paling bertanggung jawab atas perubahan itu—mengatakan bahwa UUD itu sementara, UUD kilat, Revolutiegrondwet. Soekarno menjanjikan bahwa jika kondisi normal akan mengumpulkan MPR untuk membuat UUD yang lebih lengkap dan sempurna (ibid, 43). Akan tetapi, kita melihat fakta sejarah pada sidang-sidang konstituante hasil pemilu 1955, ternyata terjadi deadlock dan Soekarno mengeluarkan dekrit 5 Juli 1959 yang isinya kembali kepada UUD 1945 yang Revolutiegrondwet itu. Hal itu berlaku hingga hari ini.

Mengapa Piagam Jakarta masih terus mengemuka? Media Indonesia (30/08/2001) menulis bahwa sebabnya adalah adanya fakta sejarah yang mendukungnya. Dalam konsiderans Dekrit Presiden 5 Juli 1959 disebutkan bahwa bahwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945 menjiwai UUD 1945 dan merupakan suatu kesatuan dengan konstitusi itu. Kita tahu, dengan dasar hukum dekrit itulah, UUD ’45 berlaku kembali sebagai hukum dasar tertinggi di Indonesia.

Sayang sekali, konsiderans itu ternyata toh tidak pernah menjadi pertimbangan yang sebenarnya. Lebih merupakan beleid politik. Pasalnya, pemerintah Indonesia dengan seluruh sistem hukum dan ketatanegaraannya, pada faktanya sama sekali tidak memperhatikan apa yang ada dalam Piagam Jakarta serta apa yang menjadi pemikiran dan perasaan umat Islam Indonesia. Bahkan, yang ada justru depolitisasi dan rekayasa sedemikian rupa. Tujuannya agar Islam dalam arti ideologi (Islam mabda’i) atau politik (Islam siyasi) hilang musnah dari permukaan bumi Islam yang bernama Indonesia ini.

Menyerang isu penerapan syari’at Islam sebagai akan kembali ke masa barbar, atau akan teraniayanya non-Muslim, sungguh kekhawatiran laten dan klise yang dulu diungkapkan oleh Latuharhary pada sidang BPUPKI (H. Endang Saifuddin, ibid, 29) dan muncul lagi pada petang 17 Agustus 1945, yakni tatkala seorang opsir Jepang menyampaikan bahwa orang-orang Kristen Protestan dan Katolik dari Timur enggan bergabung manakala digunakan Mukaddimah dan Batang Tubuh UUD 1945 hasil sidang BPUPKI (H. Endang Saifuddin, ibid, 45-46). Akan tetapi faktanya pada saat bangsa Indonesia masih berpegang teguh pada UUD 1945 (hasil perubahan memenuhi aspirasi mereka), toh orang-orang Kristen dan Katolik dari Timur itu sangat kuat keinginannya melepaskan diri dari Indonesia. Kongres Papua, FKM, seolah iri kepada Timtim yang telah berhasil memisahkan diri dari NKRI.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] tanpa ada kalimat bagi pemeluk pemeluknya, karena syari’at Islam yang berkaitan dengan hukum publik semisal ekonomi, hukum hukumtentang pertanahan, dll diberlakukan untuk semua warga negara
[2] Moh. Natsir dalam tulisannya berjudul “Tanpa Toleransi Takkan Ada Kerukunan”, dalam buku Fakta dan Data, Media Dakwah, 1991
more »

August 24, 2010

Al-Quran Terberat di Dunia

Indonesia ternyata memiliki Al Quran terberat di dunia. Kitab suci yang terbuat dari alumunium itu memiliki berat total 1,2 ton!

Alquran istimewa itu terdapat di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, di Kampung Waru, Parung, Bogor, Jawa Barat. Pembuatan Alquran ini memakan waktu sampai 5 tahun, yakni 1985-1990. Ide pembuatan Alquran terberat ini berasal dari pendiri ponpes, Syekh Habib Saggaf. Dia kemudian mengajak 8 temannya yang mahir dan hafal Alquran.

"Untuk mengerjakannya, para habib tersebut harus berpuasa dan suci berwudhu. Jika wudhunya batal, mereka harus mengambil wudhu lagi," kata Mukhlisin, salah seorang santri Ponpes Al-Ashriyyah Nurul Iman, Jakarta.

Dengan ketekunan dan kesabaran yang tinggi, akhirnya Alquran tersebut bisa diselesaikan. Kini Alquran yang terdiri dari 30 juz, 6.236 ayat dan 114 surat tersebut bisa dinikmati para santri di perpustakan ponpes.

Alquran berwarna hijau ini terdiri dari 270 lempeng alumunium berukuran 1,2 meter x 1,5 meter dengan ketebalan 3 milimeter. Ayat-ayat suci di dalamnya ditulis dengan cat khusus berkualitas tinggi. Cat ini diperkirakan akan tahan hingga ratusan tahun.


more »

August 23, 2010

Israel Segera Hancurkan Dua Masjid di Tepi Barat




REPUBLIKA.CO.ID, ALQUDS--Pemerintah sipil militer Israel di Tepi Barat, mengeluarkan perintah penghancuran dua buah masjid di Tepi Barat yang dibangun selama setahun terakhir dengan dalih tidak memiliki izin pembangunan. Ini adalah bentuk provokasi terang-terangan yang dilakukan Zionis Israel terhadap kaum Muslimin di bulan Ramadhan.

Surat kabar Israel Ha’aretz, edisi Senin (23/8), menyebutkan bahwa masjid pertama yang dihancurkan ini berada dekat Desa Buron di wilayah utara Tepi Barat. Yang kedua berada di dekat Desa Jalzun di Ramallah, yang sedang dalam tahap pembangunan.

Sebuah organisasi Israel yang anti pembangunan masjid Palestina, Rgabim, telah mengajukan permohonan ke pengadilan meminta penghancuran kedua masjid tersebut. Wakil Arab di parlemen Israel, Knesset, Dr Afwu Ighbaria, menegaskan bahwa keputusan pemerintah sipil militer Israel yang memerintahkan penghancuran dua masjid itu berdasarkan permohonan yang diajukan oleh organisasi radikal Rgabim.

Organisasi ini memang terus memantau pembangunan masjid-masjid di desa-desa Palestina di Tepi Barat. Dia menilai keputusan ini adalah kejahatan terang-terangan di samping kejahatan yang dilakukan institusi penguasa Zionis. Keputusan ini adalah provokasi terhadap perasaan kaum Muslimin di bulan Ramadhan. Penghancuran rumah-rumah Arab di Nagev dan di wilayah otoritas Palestina ini tanpa pertimbangan nilai kemanusiaan dan agama.

Israel Segera Hancurkan Dua Masjid di Tepi Barat

Red: irf
Sumber: infopalestina
more »

August 21, 2010

10 Keutamaan Puasa Ramadhan

Pertama, Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai Al Rayyan. Pintu surga Al Rayyan ini hanya disediakan bagi umat yang berpuasa. Kata Nabi dalam satu haditsnya, “Pintu Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk lainnya. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Ahmad dan Bukhari-Muslim)

Kedua, Allah telah mengfungsikan puasa umat Nabi Muhammad saw sebagai benteng yang kokoh dari siksa api neraka, sekaligus tirai penghalang dari godaan hawa nafsu. Dalam hal ini Rasul bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).

Rasul menambahkan pula bahwa puasa yang berfungsi sebagai perisai itu layaknya perisai dalam kancah peperangan selama tidak dinodai oleh kedustaan dan pergunjingan. (HR. Ahmad, An Nasa`i, dan Ibnu Majah).

Ketiga,
Allah memberikan keistimewaan kepada ahli puasa dengan menjadikan bau mulutnya ada nilainya. Sehingga Rasul bertutur demikian, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih semerbak di sisi Allah dari bau minyak misik.”

Keempat, Allah memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak. Orang yang berpuasa dalam santapan bukanya meluapkan rasa syukurnya di mana bersyukur termasuk salah satu ibadah dan dzikir.

Syukur yang terungkap dalam kebahagiaan karena telah diberi kemampuan oleh Allah untuk menyempurnakan puasa di hari tersebut sekaligus berbahagia atas janji pahala yang besar dari-Nya. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan. Yaitu berbahagia kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (kata Rasul dalam hadits riwayat imam Muslim).

Kelima, puasa telah dijadikan oleh Allah sebagai medan untuk menempa kesehatan dan kesembuhan dari beragam penyakit. “Berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.” (HR. Ibnu Sunni dan Abu Nu`aim).

Abuya menegaskan bahwa rahasia kesehatan di balik ibadah puasa adalah bahwa puasa menempa tubuh kita untuk melumatkan racun-racun yang mengendap dalam tubuh dan mengosongkan materi-materi kotor lainnya dari dalam tubuh.

Menurut kerangka berpikir Abuya, puasa ialah fasilitas kesehatan bagi seorang hamba guna meningkatkan kadar ketakwaan yang merupakan tujuan utama puasa itu sendiri. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al Baqarah: 183).

Keenam, keutamaan berikutnya yang Allah berikan kepada ahli puasa adalah dengan menjauhkan wajahnya dari siksa api neraka. Matanya tak akan sampai melihat pawai arak-arakan neraka dalam bentuk apapun. Rasul yang mulia berkata demikian, “Barangsiapa berpuasa satu hari demi di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. Ahmad, Bukhari-Muslim, dan Nasa`i).

Ketujuh, dalam al-Qur’an Allah berfirman, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At Taubah: 112).

Sebagian ulama ahli tafsir menerangkan bahwa orang –orang yang melawat (As Saihuun) pada ayat tersebut adalah orang yang berpuasa sebab mereka melakukan lawatan (kunjungan) ke Allah. Makna lawatan, tegas Abuya, di sini adalah bahwa puasa merupakan penyebab mereka (orang yang berpuasa) bisa sampai kepada Allah. Lawatan ke Allah ditandai dengan meninggalkan seluruh kebiasaan yang selama ini dilakoni (makan, minum, mendatangi istri di siang hari) serta menahan diri dari rasa lapar dan dahaga.

Sembari mengutip al-Qur’an pula, Abuya mencoba menganalisa surah Az Zumar ayat 10: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Orang-orang yang bersabarlah maksudnya adalah orang yang berpuasa sebab puasa adalah nama lain dari sabar. Di saat berpuasalah, orang-orang yang bersabar (dalam beribadah puasa) memperoleh ganjaran dan pahala yang tak terhitung banyaknya dari Dzat Yang Maha Pemberi, Allah swt.

Kedelapan, di saat puasa inilah Allah memberi keistemewaan dengan menjadikan segala aktivitas orang yang berpuasa sebagai ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, orang yang berpuasa dan ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna (diam) adalah ibadah serta tidurnya dengan tujuan agar kuat dalam melaksanakan ketaatan di jalan-Nya juga ibadah. Dalam satu hadits riwayat Ibnu Mundih dinyatakan, “Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, tidurnya merupakan ibadah, dan doanya akan dikabulkan, serta perbuatannya akan dilipatgandakan (pahalanya).”

Tentu, tidak dimaksudkan bahwa puasa itu dipenuhi dengan tidur. Bahkan harus sebaliknya, jauh lebih keras.Hanya saja, nilai tidur orang berpuasa di hadapan Allah berbeda dengan tidurnya orang yang tidak berpuasa.

Kesembilan, di antara cara yang Allah memuliakan orang yang berpuasa, bahwa Allah menjadikan orang yang memberi makan berbuka puasa pahalanya sama persis dengan orang yang berpuasa itu sendiri meski dengan sepotong roti atau seteguk air. Dalam satu riwayat Nabi bertutur, "seseorang yang memberi makan orang yang puasa dari hasil yang halal, akan dimintakan ampunan oleh malaikat pada malam-malam Ramadhan…meski hanya seteguk air." (Hr. Abu Ya`la).

Kesepuluh, orang yang berbuka puasa dengan berjamaah demi melihat keagungan puasa, maka para malaikat akan bershalawat (memintakan ampunan) baginya. Mudah-mudahan kita termasuk bagian dari sepuluh keutamaan tersebut.

*)Penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang
more »

August 18, 2010

Ramadah Bulan Perjuangan Mewujudkan Kemerdekaan yang Hakiki

Bangsa Indonesia mengaku sudah 65 tahun merdeka. Faktanya secara keamanan dan ekonomi masih “dijajah” asing

(Oleh: Andi Perdana Gumilang)*

TIDAK terasa sudah 65 tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 1945, negeri ini merdeka dari penjajahan fisik yang dilakukan oleh negara-negara kolonialis. Umat Islam, yang merupakan mayoritas di negeri ini, tentu patut bersyukur atas anugerah kemerdekaan ini. Namun demikian, sangat disayangkan, kemerdekaan seolah dipahami oleh bangsa ini semata-mata sebagai keterbebasan negeri ini dari penjajahan secara fisik.

Akibatnya, penjajahan non-fisik (yakni penjajahan pemikiran/ideologi, politik, ekonomi, sistem sosial, dan budaya) yang berakar pada kapitalisme global, sering tidak disadari sebagai bentuk penjajahan. Padahal penjajahan nonfisik dalam wujud dominasi kapitalisme global ini jauh lebih berbahaya daripada penjajahan fisik. Penjajahan nonfisik dalam wujud dominasi kapitalisme global ini juga telah menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi bangsa ini khususnya, dan umat manusia di dunia umumnya; selain memakan korban jiwa yang terbunuh secara pelan-pelan.

Ramadhan di Tengah Penjajahan Non-Fisik


Saat ini mayoritas negeri-negeri muslim merasa sudah merdeka, dalam arti lepas dari penjajahan dan cengkeraman asing dan bisa menentukan nasib sendiri. Faktanya, tidak ada satu pun negeri muslim yang dapat lepas dari cengkeraman asing. Disadari atau tidak ternyata asing hanya mengubah gaya penjajahannya dari penjajahan secara fisik ke penjajahan secara nonfisik. Pada Ramadhan saat ini kita masih menyaksikan potret kehidupan masyarakat Indonesia yang hidup di negeri agraris yang penuh dengan keprihatinan yang luar biasa akibat penjajahan nonfisik.


Hasil sensus BPS tahun 2010 menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 230 juta, yang masuk kategori miskin sekitar 13% lebih atau (sekitar 30 juta lebih). Itu pun jika menggunakan standar yang tidak manusiawi, yakni kemiskinan diukur dengan pendapatan per orang sekitar Rp 9 ribu/hari. Kalau menggunakan standar Bank Dunia, yakni sekitar Rp 18 ribu/hari tentu kita akan menemukan angka lebih dari 100 juta penduduk miskin di Indonesia. Ironisnya, meski penduduknya banyak yang miskin, negeri ini termasuk negeri terkorup, hal ini dibuktikan adanya riset PERC (Political & Economic Risk Consultancy) yang berbasis di Hongkong yang merilis bahwa Indonesia memiliki indek korupsi hampir “sempurna”; 9,07 dari angka maksimal 10. Padahal sumber APBN negeri ini 70%-nya dari pajak rakyat. Artinya, para koruptor di negeri ini banyak mengkorupsi uang rakyat.

Di negeri penghasil beras ini, meski sudah 65 tahun merdeka, faktanya masih ada penduduk Indonesia yang kelaparan akibat kekurangan pangan. Menurut sumber World Development Indicator 2007, jumlah penduduk di Indonesia yang dinyatakan rawan pangan mencapai 13.8 juta jiwa (6%). Data ini diperkuat dengan kasus kelaparan di beberapa tempat, bahkan ada yang sampai meninggal akibat gizi buruk dan ada juga masyarakat yang terpaksa makan nasi aking, dan lain-lain. Tentu itu semua baru sebagian kecil yang terekspos oleh media.

Belum lagi jika kemerdekaan diukur dengan kemandirian bangsa ini terhadap campur tangan dan intervensi asing dalam berbagai bidang. Di antaranya:


Pertama, bidang hukum. Hukum yang berlaku di Indonesia 80% masih hukum Belanda. Penjajah Belanda diusir, namun hukumnya tetap dipakai dan dilestarikan.

Kedua, bidang ekonomi. Beban utang Indonesia yang terus bertambah. Menurut data Kementerian Keuangan, jumlah utang Indonesia saat ini Rp 1.600 triliun dan terus meningkat dari sebelumnya berjumlah Rp 1.200 triliun pada tahun 2004 (metrotvnews, 19/4/2010).

Bahkan para pejabat Indonesia terus menyerahkan leher Indonesia dijerat utang luar negeri.

Ketiga,
bidang perundang-undangan. Pembuatan perundang-undangan tidak lepas dari campur tangan asing. Tengoklah nuansa campur tangan asing dalam UU Sumberdaya Air, UU Migas, UU Penanaman Modal, dll.

Keempat,
Bidang Keamanan, adanya kasus terorisme yang menampilkan sikap arogan aparat dengan menumpahkan darah rakyat begitu saja hanya bersandarkan pada dugaan atau baru diduga teroris. Langkah kontra terorisme tersebut tampak sarat dengan pelanggaran HAM dan tercium kuat aroma “pesanan” dari negara penjajah AS dengan proyek “perang melawan terorisme”. Adanya informasi bahwa Densus 88 didanai AS sangat sulit dibantah. Dana AS yang mengalir kepada Polri untuk mendirikan Densus 88 sangat besar dan setiap tahunnya mengalami peningkatan. (Eramuslim, FUI: AS danai Densus 88, 26/06/2007 ).

Dalam situs Wikipedia tentang Densus 88, dinyatakan dengan tegas bahwa "Pasukan khusus ini dibiayai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan kota Jakarta." (wikipedia.org , 10 Agustus 2009). Semua ini menunjukkan bahwa bangsa ini tidak mandiri, belum bebas dari campur tangan asing dan tentu belum merdeka secara hakiki.


Terapkan al-Quran untuk Kemerdekaan   

Kemakmuran dan kemandirian jelas merupakan dua hal di antara ciri bangsa yang merdeka. Kedua hal ini hanya mungkin diwujudkan dengan kembali pada al-Qur’an (syariah Islam).

Secara i’tiqadi, kita wajib meyakini bahwa syariah Islam tidak hanya sanggup mewujudkan kemerdekaan hakiki, tetapi bahkan mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Lebih dari itu, syariah Islamlah yang akan sanggup membebaskan manusia dari segenap belenggu penjajahan, sekaligus dari penghambaan manusia kepada manusia lain menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT semata. Itulah sebenarnya kemerdekaan yang hakiki, yang pernah berhasil diwujudkan oleh Rasulullah saw dalam wujud Daulah Khilafah Islamiyah.

Puasa Ramadhan yang telah mengajari kita ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT haruslah semakin menyadarkan kita untuk semakin tunduk dan taat pada al-Qur’an, wahyu yang telah Allah turunkan sebagai petunjuk bagi kita. Bulan Ramadhan yang merupakan bulan turunnya al-Qur’an seharusnya kita gunakan untuk merenung dan mengintrospeksi diri: sudah sejauh mana kita menjadikan al-Qu’an sebagai petunjuk hidup kita; sejauh mana kita mengadopsi ketentuan halal-haramnya serta hudud dan hukum-hukum di dalamnya. Karena itu, hendaknya kita menjadikan al-Qur’an sebagai tolok-ukur untuk mengukur baik-buruknya kehidupan kita.

Ringkasnya, bulan Ramadhan adalah bulan penerapan al-Qur’an untuk menggapai rahmat dengan cara mewujudkan ketakwaan personal maupun kolektif/sosial atau dalam konteks negara.

Allah menurunkan al-Qur’an tiada lain agar diambil, diikuti, dan dijadikan petunjuk oleh manusia dalam menjalani hidup dan mengelola kehidupan ini. Sebagaimana firman Allah:

”Al-Quran adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkati. Karena itu, ikutilah dia agar kalian dirahmati.” (QS al-An‘am [6]: 155)

Allah SWT juga memerintahkan agar kita berpegang teguh dengan al-Quran:

”Berpegang teguhlah kamu dengan apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.”
(QS az-Zukhruf [43]: 43).

Dengan demikian, pada bulan ini sejatinya terjadi peningkatan keberpihakan umat Islam pada penegakkan syariah Islam secara kaffah sekaligus upaya memperjuangkan penerapannya untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki.

Bulan Ramadhan hendaknya menjadi momentum untuk semakin membersihkan pikiran dan mensucikan hati hingga memiliki daya pembeda antara haq dan yang batil, sekaligus mengikuti kebenaran Islam dan menjauhi ajakan setan, baik yang berwujud jin maupun manusia. Akhirnya di Bulan Ramadhan ini sudah saatnya bersama-sama kita perjuangkan penerapan hukum al-Qur;an (syariah Islam) secara kaffah demi terwujudnya kemerdekaan yang hakiki.

Bulan Ramadhan itu, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (yang haq dari yang batil). (QS al-Baqarah [2]: 185).

*Penulis adalah staf  LPS DD
Sumber: http://www.hidayatullah.com/home/ramadhan-mubarak/kajian-ramadhan/13011-ramadhan-bulan-perjuangan-mewujudkan-kemerdekaan-hakiki
more »

August 17, 2010

Open Your Eyes (Maher Zain)

Perhatikan Sekitar Dirimu, Tidakkah kau dapat melihat sesuatu yang mengherankan, Menyebar ada di depanmu..Awan-awan yang berarak di angkasa, Langitnya cerah dan berwarna biru, planet-planet ada dalam orbitnya masing-masing, begitu pula matahari dan bulan... Duh.. begitu sempurnanya harmoni alam itu.

Coba kita tanyakan ke diri kita masing-masing, Tidakkah ini semua cukup untuk membuktikan..bagi kita? Atau kita kah yang begitu buta..? Menyingkirkan semua itu..? dan Janganlah begitu... Kita hanya perlu .. buka mata, hati dan pikiran kita, jika kita sesungguhnya dapat melihat dengan jelas tanda-tanda itu...bahkan kita tidak dapat terus menyembunyikan itu dari kebenaran...Biarkan itu semua membuat kita terkejut..

Bawa kami ke dalam cara yang terbaik (Allah), Tuntun kami setiap harinya (Allah), Jaga kami biar selalu dekat padaMu (Allah)... Hingga akhir masa.

Perhatikan kedalam dirimu sendiri...Ada keteraturan yang sempurna...Tersembunyi didalam dirimu masing-masing... mengalir dalam aliran darahmu..Bagaimana pula dengan rasa marah, Cinta dan Rasa Sakit...? Dan semua hal-hal yang sedang kau rasakah...? Dapatkah kau sentuh itu semua dengan tanganmu..? Lalu Apakah mereka benar-benar ada..?

Coba kita tanyakan ke diri kita masing-masing, Tidakkah ini semua cukup untuk membuktikan..bagi kita? Atau kita kah yang begitu buta..? Menyinkirkan semua itu..? dan Janganlah begitu... Kita hanya perlu .. buka mata, hati dan pikiran kita, jika kita sesungguhnya dapat melihat dengan jelas tanda-tanda itu...bahkan kita tidak dapat terus menyembunyikan itu dari kebenaran...Biarkan itu semua membuat kita terkejut sebenarnya..

Bawa kami ke dalam cara yang terbaik (Allah), Tuntun kami setiap harinya (Allah), Jaga kami biar selalu dekat padaMu (Allah)... Hingga akhir masa.

Ketika seorang bayi terlahir.. Begitu tak berdayanya dan lemah dia..dan Kau lihat dia tumbuh dan berkembang...? Lalu mengapa menolaknya.? Apa sih sebenarnya yang ada di depan matamu.. Itulah sesungguhnya keajaiban terbesar dalam hidup...

Kita hanya perlu .. buka mata, hati dan pikiran kita, jika melihatnya dengan teliti kita akan melihat tanda-tanda itu...bahkan kita tidak dapat terus menyembunyikan itu dari kebenaran...Biarkan itu semua membuat kita terkejut sebenarnya..

Bawa kami ke dalam cara yang terbaik (Allah), Tuntun kami setiap harinya (Allah), Jaga kami biar selalu dekat padaMu (Allah)... Hingga akhir masa.


Allah kau ciptakan semuanya... Kami ini milikmu... Yaa.. Robbi.. Kami angkat tangan kami.. Selamanya.. kami Terima kasih padaMu...Alhamdulillah

more »

August 16, 2010

Sumber Kebahagiaan Manusia (Prof.DR.Abdur Razzaq)


Kebahagian, perkara yang selalu dicari oleh setiap manusia, sebuah cita-cita yang selalu diraih oleh manusia.  Tidak ada seorangpun yang mau hidup sengsara.  Namun persepsi tentang hakekat kebahagiaan ini pada pandangan manusia beraneka ragam bentuknya, sehingga beragam  pula cara yang ditempuh untuk mewujudkannya.

Ada yang coba mencari kebahagiaan dengan cara yang justru menjerumuskan dirinya pada kesengsaraan.  Bahkan ada juga yang mengharapkan kebahagiaan dengan cara melakukan dosa-dosa besar, tindakan keji dan kemungkaran.  Padahal bermaksiat hanya akan menambahkan kegelapan dan kegelisahan hati, bukan kebahagiaan.


Sebagian ada pula yang menggapai kebahagiaan dengan mengumpulkan harta, walaupun dengan cara-cara tidak terpuji dan haram.  Tidak peduli bagaimana harta itu didapatkan, yang penting harta terkumpul, meski dihasilkan melalui praktek riba, jual-beli yang haram, kecurangan dan praktek riba, jual-beli haram, kecurangan dan praktek transaksi haram lainnya.  Ada tiga hal yang harus terpenuhi guna meraih kebahagaiaanj, yang diungkapkan oleh Imam Ibnul Qayyim RA, dengan istilah tanda-tanda kebahagiaan. Ketiga hal tersebut adalah: Bersyukur, Sabar dan Beristhighfar.

Karena keadaan seseorang  akan selalu berputar antara mendapatkan karunia  yang melimpah, ditimpa musibah, atau terjerumus dalam lubang dosa.  

Bersyukur. Seseorang yang beriman taktala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah SWT, kemudian ia memuji Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya.

Sabar.  Seseorang jika dia beriman dan ditimpa musibah, dia yakin bahwa itu semua atas kehendak Allah SWT, lalu dirinya ridha dan bersabar.

Istighfar.  Jika orang yang beriman pada suatu waktu terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah SWT dan kemudian bertaubat dan beristighfar. 


Kesimpulannya adalah kebahagiaan hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah.  Keimanan merupakan tempat bersandar seorang muslim pada setiap keadaannya.  Apabila dia selalu berjalan di bawah naungan cahaya iman tersebut, dengan izin Allah, ia akan menjadi orang yang berbahagia.  Besar kecilnya kebahagiaan yang akan dia rasakan tergantung pada tebal dan tipisnya keimanan kepada Allah.  Sebab keimanan yang selalu dia pegang dengan erat akan memandunya menuju jalan kebenaran dan kebajikan.

Adapun keimanan dan amal shaleh seorang hamba hakikatnya berasal dari karunia Allah SWT.  Hendaknya seorang mukmin menyakini bahwa iman yang ia rasakan dan amal shalih yang ia kerjakan, bersumber dari taufik dari karunia Allah.  

Dan jikalaulah bukan karena karunia Allah atas kalian, maka tidak akan ada seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) untuk selama-lamanya.  Akan tetapi, Allah membersihkan siapa saja yang Dia kehendaki (QS.An-Nur/24:21)

Intinya seorang mukmin taktala ia mampu melaksanakan amal shalih ataupun menjauhi maksiat, ia harus yakin bahwa itu semua tidak lepas dari karunia Allah.  Karena itu tidak sepantasnya merasa 'ujub (silau, berbangga diri) dengan ilmu, harta dan kedudukannya.  Karena sifat tersebut dapat merusak amal shalih seseorang dan sekali-kali tidaklah bermanfaat baginya.

(Disadur dari: Bonus Edisi Khusus Ramadhan-Syawwal 1431 H)
more »

August 14, 2010

Empat Golongan Yang Dirindukan Surga

Ceramah agama puasa Ramadhan memasuki hari ke-4 diisi oleh penceramah sekaligus imam dari Ciledug.  Beliau membaca surat surat Al-Quran sangat fasih sekali sehingga membuat jemaah tarawih merasa lebih khidmat menjalankan ibadah tarawih.

Dalam ceramah singkatnya beliau menyampaikan tentang 4 Golongan Manusia Yang Dirindukan oleh Surga.  Mereka adalah:

  1. Orang Yang rajin membaca al-qur’an. Dalam artian disamping membacanya, dia juga memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Dan perihal No.1 inilah yang berat, sebab diperlukan kerelaan yang seikhlas-ikhlasnya untuk menerima aturan Allah seperti terkandung dalam Al-Quran
  2. Orang yang menjaga lidahnya. Lidahmu adalah Pedangmu.  Sering lisan kita untuk berbicara dengan maksud bercanda yang tanpa kita sadari malah canda itu menyakitkan bagi orang lain.  Bahkan jika sudah berkumpul dengan beberapa teman sering juga kita malah membicarakan keburukan/kejelekan orang lain dan cenderung kita melakukan Ghibah. 
  3. Orang yang memberi makan fakir miskin dan fisabillah.  Andai semua orang islam melakukan ini dengan distribusi yang benar sampai sasaran, maka tidak akan ada lagi fakir miskin di Indonesia.  Entahlah permasalahan ini saling kait mengkait.
  4. Orang yang berpuasa di bulan ramadhan.  Puasa Ramadhan merupakan salah satu Rukun Islam dan dikatakan dalam Al-Quran bahwa puasa hanya dapat dikerjakan oleh orang-orang yang beriman saja.  Sempurnanya puasa juga tidak hanya dengan menahan makan dan minum, akan tetapi di ikuti oleh amalan ibadah lain seperti; Baca Al-Quran, Infaq & Shodaqoh. dsb.

    Pasang di blog anda dengan cara copy paste-->Add Gadget-->Html/JavaScript





    more »

    August 8, 2010

    Belajar Ngaji dengan Word

    Ternyata komputer bisa juga memudahkan untuk belajar mengaji.  Salah satunya dengan menginstall aplikasi yang bernama Al-Quran in Word. Al-Quran in Word itulah nama software yang diberikan oleh pembuatnya. Dinamakan Al-Quran in Word karena sofware ini dibuat sebagai plugins Al-Quran pada Ms Word. Walaupun sebuah plugins tetapi kemampuannya cukup bisa dihandalkan untuk menulis Al Quran dalam tulisan Arab maupun terjemahannya ke dalam bahasa indonesia secara otomatis. Jadi dalam beberapa langkah saja Text Al Quran yang kita harapkan bisa langsung tertulis.
    more »

    August 6, 2010

    Mungutin SMS Ramadhan Sana-Sini

    Ramadhan adalah bulan suci dan "Barangsiapa menyambut datangnya Ramadhan dengan suka cita, maka ALLAH mengharamkan jasadnya masuk neraka".. So.. sudah sewajarnya di awal Ramadhan ini kita mengharapkan ampunan dari salah dan khilaf kita baik kepada ALLAH maupun kerabat.. dan juga Teman.

    Semoga dengan sms ramadhan 2010 dibawah ini kita bisa benar-benar saling memaafkan dan ucapan ramadhan 2010 diatas semoga bermanfaat. Jika kalian masih belum puas dan belum menemukan yang terbaik, silahkan dicari sendiri dan yang mau nyumbang juga boleh kok.. Silahkan ketik di Komentar atau Kotak Ngobrol nanti akan dimuat berikut nama si pengirim.

    Mudah-mudahan bermanfaat. Amin
    =======================================================================
    Bila dalam kata perbuatan tergores salah & khilaf, dgn segala kerendahan hati terucap mhn maaf setulus2nya. Selamat menunaikan ibadah puasa 1431 H
    =======================================================================
    Maaf saldo amal anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ke surga..untuk itu isilah segera saldo amal anda di bulan puasa ini.
    =======================================================================
    Jika hati ini seringkali jengkel,
    Jadikan ia jernih sejernih XL,
    Jika hati ini seringkali iri,
    Jadikan ia cerah secerah MENTARI,
    Jika hati ini seringkali dendam
    Jadikan ia penuh kemesraan FREN
    Jika hati ini seringkali dengki
    Jadikan ia penuh SIMPATI
    Ahlan Wa Sahlan Wa Marhaban Ya Ramadhan
    Bebaskan Diri dari ROAMING dosa,
    Raihlah HOKI
    Raihlah JEMPOL dari Ilahi
    =====================================================================
    SEIRING TERBENAM MENTARI DI AKHIR SYA’BAN,
    TIBALAH KINI BULAN RAMADHAN,
    PESAN INI SEBAGAI GANTI JABAT TANGAN UNTUK
    MOHONKAN MAAF DAN KEKHILAFAN.
    MARHABAN YA RAMADHAN.
    =====================================================================
    Ada raksasa bLi puLsa..
    Ga krasa dah mw puasa…
    Brung kk Tua nempLok dijendeLa
    jgn Lpa perbnyk pahaLa..
    Ada pepaya dmkan jerapah..
    Maf’n aq ya klo pny sLah…
    happy ramadhan !
    =====================================================================
    kekota jakarta hari selasa
    pulang pergi naik kreta
    s’hari lg kt puasa
    mohon mf kalo ada salah kata…

    Marhaban Ya Ramadhan :-)
    =====================================================================
    Mpok rOGAYE Tibe2 kye
    TeMen2 smUe Met puAse Yeee…….
    Soto TumpAh Hrus dIelaPin
    Klo aDa Slan Moon DimAAfin
    ZiDan SukA DanDan
    MarHaban Ya rAmaDhan,
    =======================================================================
    Hidup ini hanya sebentarlagi
    bentar marah,bentar ketawa
    betar berduit,bentar boke
    bentar senang,bentar susah
    ooo ye…bentar lagi bulan puasa
    met ramadhan…mohon maaf lahir bathin
    =======================================================================
    more »

    Hikmah dibalik Wudhu

    "Sempurnakanlah dalam berwudhu dan gosoklah sela-sela jari kalian"… hal ini diterangkan dalam hadist riwayat Imam yang empat  (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad Hambal).

    Menurut pandangan medis hal ini sangatlah rasional. Karena pada bagian tersebut terdapat banyak serabut saraf, arteri, vena, dan pembuluh limfe. Menggosok pada sela-sela jari sudah semestinya memperlancar aliran darah perifer (terminal) yang menjamin pasokan makanan dan oksigen.

    Titik lain yang terkena basuhan air adalah siku. Selain menyentuh aspek hygiene, pada siku bagian bawah terdapat titik-titik penting dalam akupuntur.  Termasuk juga ujung tungkai (lutut ke bawah) memiliki titik akupuntur yang penting.

    Pada bagian telinga pun memiliki titik akupuntur. Menurut cabang spesifikasi kedokteran di China, bagian telinga bisa direpresentasikan sebagai tubuh manusia. Bentuk telinga ini serupa dengan bentuk tubuh saat meringkuk dalam rahim ibu. Kepalanya adalah bagian yang sering dipasang anting. Dalam lubang adalah rongga tubuh tempat tersimpannya organ-organ dalam. Melakukan stimulasi seperti wudhu akan berpengaruh baik terhadap fungsi organ dalam. Adapun lingkaran luar menggambarkan punggung. Pemijatannya juga seolah melakukan stimulasi daerah punggung dan ruas-ruas tulang belakang.

    Lalu adakah rahasia matematis antara hubungan ritual wudhu dengan susunan tulang dan sendi? Menurut dr Sagiran jumlah ruas tulang manusia ada 354 yang sama dengan jumlah hari dalam satu tahun hijriah. Hitungan jumlah ini didapat dari rumus, yakni anggota wudhu di kaki, di tangan, dan di muka yang dibasuh pada saat wudhu dikalikan dengan kali pembasuhan. Kalau tangan dan kaki di basuh tiga kali, kepala diusap hanya sekali. Maka ritual berwudhu seperti halnya sama saja dengan membasuh seluruh tubuh.  Selain sebagai ritual bersuci, berwudhu juga mengandung unsur perawat kesehatan tubuh. http://qultummedia.com/Kabar-Qultum/Review-Buku/rahasia-di-balik-ritual-wudhu.html

    Dibawah ini animasi tata cara berwudhu dalam bahasa inggris

            

    more »

    August 4, 2010

    19 Tanda Tanda Kegagalan Ramadhan

    Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya. Di bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan

    1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya'ban.
    Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya'ban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu `alaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu `anha berkata,"Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya'ban."


    2. Gampang mengulur shalat fardhu.
    "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih." (Maryam: 59)

    Menurut Sa'id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari. Orang yang bershiyam Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.


    3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.
    Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

    "Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (Al-Anbiya:90)

    "Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya." (Hadits Qudsi)


    4. Kikir dan rakus pada harta benda.
    Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).


    5. Malas membaca Al-Qur'an.
    Ramadhan juga disebut Syahrul Qur'an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur'an.

    "Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur'an." (HR Baihaqi)

    Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.


    6. Mudah mengumbar amarah.
    Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."

    Dalam hadits lain beliau bersabda: "Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


    17. Gemar bicara sia-sia dan dusta.
    "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya." (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

    Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: "Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia." (Al Muhalla VI:178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: "Bicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan."


    8. Memutuskan tali silaturrahim.
    Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya." Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

    Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.


    9. Menyia-nyiakan waktu.
    Al-Qur'an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

    "Allah bertanya: `Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: `Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.'

    Allah berfirman: `Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. "Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai `Arsy yang mulia." (Al-Mu'minun: 112-116)

    Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.


    10. Labil dalam menjalani hidup.
    Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw: "Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya." (HR Ahmad, Nasa'i, Baihaqi dari Abu Hurairah)

    Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

    11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.
    Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan `amar ma'ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.


    12. Khianat terhadap amanah.
    Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang
    lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.


    13. Rendah motivasi hidup berjama'ah.
    Frekuensi shalat berjama'ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama'ah, yang saling menguatkan.

    "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4)

    Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama'ah.


    14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.
    Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fitrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat
    kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.


    15. Malas membela dan menegakkan kebenaran.
    Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.


    16. Tidak mencintai kaum dhuafa.
    Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.


    17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

    "Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hasyr:18)


    18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.
    Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

    Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.


    19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.
    Secara harfiah makna Idul Fitri berarti "hari kembali ke fitrah". Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari "penjara" Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional. Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.

    Info ini disadur sesuai aslinya dari: http://musiconlinecairo.multiply.com/journal/item/58?&item_id=58&view:replies=reverse
    more »